Beranda / News / Panduan Lengkap Cara Memilih Saham Undervalued untuk Investasi Cerdas

Panduan Lengkap Cara Memilih Saham Undervalued untuk Investasi Cerdas

Mengapa Investor Memburu Saham Undervalued?

Setiap investor saham pasti bermimpi membeli aset berkualitas saat harganya sedang “diskon”. Strategi ini dikenal sebagai value investing, di mana tujuan utamanya adalah menemukan perusahaan bagus yang dihargai pasar di bawah nilai aslinya. Memahami cara memilih saham undervalued adalah kunci untuk memaksimalkan keuntungan jangka panjang dan meminimalkan risiko kerugian.

Saham undervalued bukan berarti saham yang harganya anjlok atau murah karena perusahaannya bangkrut. Sebaliknya, ini adalah saham dengan fundamental bisnis yang kuat, namun pasar belum menyadari potensi sejatinya. Artikel ini akan membimbing Anda mengenali ciri-ciri dan metode analisis untuk menemukan permata tersembunyi tersebut.

Pentingnya Analisis Fundamental

Sebelum terjun ke pasar, Anda harus menyadari bahwa menemukan saham murah tidak bisa dilakukan hanya dengan sekadar melihat grafik harga. Kunci utamanya adalah analisis fundamental. Anda perlu menggali laporan keuangan untuk melihat kesehatan bisnis di balik angka harga saham yang terpampang.

Tujuan analisis ini adalah menemukan intrinsic value atau nilai wajar dari sebuah saham. Jika harga pasar jauh di bawah nilai wajar tersebut, itulah yang disebut undervalued.

Rasio PBV (Price to Book Value)

Salah satu indikator paling populer dalam cara memilih saham undervalued adalah rasio PBV. Rasio ini membandingkan harga pasar saham dengan nilai bukunya.

  • PBV < 1: Saham dianggap berpotensi undervalued. Artinya, Anda membeli saham dengan harga lebih murah dari nilai aset bersih perusahaan.
  • PBV > 1: Saham mungkin dinilai mahal, namun ini wajar untuk perusahaan teknologi atau pertumbuhan tinggi.

Namun, hati-hatilah. PBV yang sangat rendah juga bisa mengindikasikan masalah serius pada perusahaan tersebut. Selalu lakukan pemeriksaan silang dengan rasio lain.

Rasio PER (Price to Earning Ratio)

Rasio PER mengukur seberapa banyak investor bersedia membayar untuk setiap rupiah keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Saham undervalued biasanya memiliki PER lebih rendah dibandingkan rata-rata industri sejenis.

Misalnya, jika rata-rata PER sektor perbankan adalah 15, namun Bank ABC memiliki PER 8 dengan kinerja yang stabil, maka Bank ABC berpotensi undervalued. Ini menunjukkan bahwa harga sahamnya relatif murah terhadap kemampuannya menghasilkan laba.

Langkah-Langkah Praktis Menyaring Kandidat

Setelah memahami rasio dasar, berikut adalah langkah praktis yang bisa Anda terapkan segera:

  • Gunakan Stock Screener: Manfaatkan fitur penyaring saham di portal investasi untuk memfilter emiten dengan PBV di bawah 1,0 dan PER di bawah rata-rata industri.
  • Cek Kinerja Laba: Pastikan perusahaan tidak hanya murah, tetapi juga mengalami pertumbuhan laba (earning growth) yang positif dan konsisten dalam 5 tahun terakhir.
  • Perhatikan Utang: Cek rasio Debt to Equity Ratio (DER). Hindari perusahaan dengan beban utang yang terlalu besar, karena ini bisa menghambat pertumbuhan di masa depan.

Margin of Safety

Konsep yang diperkenalkan oleh Benjamin Graham ini sangat krusial. Jangan beli tepat di harga wajar. Berikanlah jarak aman atau margin of safety. Misalnya, jika perhitungan nilai wajar saham adalah Rp5.000, cobalah membelinya saat harga pasar Rp4.000 atau Rp4.500. Ini memberikan perlindungan jika terjadi kesalahan dalam perhitungan analisis Anda.

Menerapkan strategi ini membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Pasar seringkali irasional, dan harga saham bisa tetap murah dalam waktu yang lama sebelum akhirnya naik. Oleh karena itu, selalu lakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan membeli.

Ingatlah bahwa cara memilih saham undervalued bukanlah skema cepat kaya. Ini adalah pendekatan investasi yang rasional dan terukur. Dengan disiplin menerapkan analisis fundamental dan memahami rasio keuangan inti, Anda meningkatkan peluang untuk membangun kekayaan yang berkelanjutan. Mulailah dengan menyaring saham-saham blue chip atau second liner yang memiliki fundamental solid namun sedang tidak diminati pasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *